Perancangan Interior Museum Gramofon dan Piringan Hitam di Solo Dengan Konsep Rising Memory

Chandra, Pamela (1363057) (2018) Perancangan Interior Museum Gramofon dan Piringan Hitam di Solo Dengan Konsep Rising Memory. Undergraduate thesis, Universitas Kristen Maranatha.

[img]
Preview
Text
1163057_Abstract_ToC.pdf - Accepted Version

Download (86Kb) | Preview
[img] Text
1163057_Appendices.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (25Mb)
[img]
Preview
Text
1163057_Chapter1.pdf - Accepted Version

Download (103Kb) | Preview
[img] Text
1163057_Chapter2.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (536Kb)
[img] Text
1163057_Chapter3.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (1657Kb)
[img] Text
1163057_Chapter4.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (1189Kb)
[img]
Preview
Text
1163057_Conclusion.pdf - Accepted Version

Download (64Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
1163057_Cover.pdf - Accepted Version

Download (69Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
1163057_References.pdf - Accepted Version

Download (71Kb) | Preview

Abstract

Ketunarunguan mempengaruhi cara penyandang tunarungu dalam memandang, mengartikan, dan merasakan penguasaan ruang tempat mereka berada dan beraktivitas. Sebagai kaum masyarakat yang termarginalisasi, penyandang tunarungu membentuk dan bersatu dalam sebuah identitas kultural yang disebut dengan Deaf Culture. Walaupun semakin banyak orang yang mulai memahami dan menghargai kebutuhan spesial penyandang tunarungu dan Deaf Culture tersebut, dunia tempat kita hidup masih sangat dibentuk bagi orang-orang yang bisa mendengar. DeafSpace Project yang diprakarsai oleh kerjasama antara arsitek Hansel Bauman dan American Sign Language Deaf Studies Department di Universitas Gallaudet pada tahun 2005 beraspirasi untuk menyusun sebuah kumpulan standar desain arsitektur dan interior yang mendefinisikan ulang cara penyandang tunarungu melihat dan merasakan ruang serta mewujudkan impian penyandang tunarungu akan sebuah tempat yang bersahabat, fasilitatif, dan menghargai way of being mereka. Penyandang tunarungu sangat mengandalkan akses visual berbentuk transparasi sebagai cara mereka membentuk persepsi ruang, untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, dan untuk melindungi diri dari berbagai faktor eksternal di lingkungan mereka. Akses visual berfokuskan transparasi dapat bersifat langsung atau tidak langsung dan kualitasnya ditentukan oleh beberapa faktor elemen interior, seperti tata ruang, pencahayaan, posisi, jarak, visibilitas, material, dan ukuran. Mengetahui implementasi elemen interior yang mengurus kebutuhan akses visual berfokus transparasi penyandang tunarungu dengan benar dapat membantu desainer interior menciptakan sebuah gubahan interior yang bersifat lebih universal, akomodatif dan peduli terhadap berbagai kebutuhan khusus penyandang tunarungu, dan menciptakan berbagai tempat di mana penyandang tunarungu dapat merasa diterima dan dihargai sebagai bagian dari masyarakat.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Tugas Akhir, desain interior, ketunarunguan
Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
Divisions: Faculty of Arts & Design > 63 Interior Design Department
Depositing User: Perpustakaan Maranatha
Date Deposited: 20 Feb 2019 08:14
Last Modified: 20 Feb 2019 08:14
URI: http://repository.maranatha.edu/id/eprint/25636

Actions (login required)

View Item View Item