Implikasi Konsep Ruang Heterotopia pada Arsitektur Gereja Karya Mangunwijaya Sebagai Akibat Adaptasi Budaya Lokal (Studi Kasus: Gereja Maria Asumpta, Klaten-Jawa Tengah)

Kusbiantoro, Krismanto (2008) Implikasi Konsep Ruang Heterotopia pada Arsitektur Gereja Karya Mangunwijaya Sebagai Akibat Adaptasi Budaya Lokal (Studi Kasus: Gereja Maria Asumpta, Klaten-Jawa Tengah). In: Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2 Pertemuan Arsitektur Nusantara.

[img]
Preview
Text
Implikasi Konsep Ruang Heterotopia.pdf - Published Version

Download (648Kb) | Preview

Abstract

Konsep ruang heterotopia yang diangkat dari pemikiran Foucault mengungkap relativitas ruang tidak nyata yang mungkin bergeser dalam kondisi yang ekstrim; dari ruang nyata ke tidak nyata; atau karakter dari sakral ke profan. Konsep ini ternyata menjadi suatu yang mungkin terjadi pada bangunan gereja Katolik yang selalu lekat dengan citra sakralitas yang tinggi. Mangunwijaya sebagai seorang arsitek menampilkan suatu citra baru dalam arsitektur gereja Katolik yaitu gereja yang diinspirasi oleh semangat pembaharuan yang muncul dalam Konsili Vatikan II. Salah satunya adalah masuknya nilai-nilai dan karakter budaya lokal sebagai bagian yang terintegrasi dalam karyanya. Gereja Maria Asumpta adalah salah satu gereja yang didesain Mangunwijaya dengan semangat itu. Pada gereja ini, aplikasi semangat pembaharuan Konsili Vatikan II yang diterapkan Mangunwijaya membuka peluang terjadinya konsep ruang heterotopia. Pada prakteknya, organisasi ruang, pergeseran aksis dan kehadiran elemen-elemen dekoratif yang menampilkan lokalitas budaya setempat memungkinkan pergeseran aktivitas (dari sakral ke profan dan sebaliknya). Kehadiran ruang perantara dalam panti umat berupa kantong-kantong yang dilengkapi dengan elemen-elemen alami seperti taman dan kolam disertai dengan perubahan ketinggian peil lantai, membuka peluang terjadinya pergeseran aktivitas tanpa mengganggu nilai sakral ruang sebagai ruang ibadah. Ruang ibadah dapat menampung berbagai aktivitas (bahkan yang bersifat profan) hanya dengan mengubah orientasi ruang. Budaya “ngumpul” masyarakat setempat terwadahi dan membuat gereja ini menjadi “rumah umat” sejalan dengan konsepsi Gereja pasca Konsili Vatikan II. Artikel ini akan mengungkap fenomena pergeseran karakter (sakral ke profan dan sebaliknya) pada Gereja Maria Asumpta sebagai suatu bangunan yang “culturally significant” untuk masyarakat setempat akibat adaptasi budaya lokal yang dilakukan oleh Mangunwijaya.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Uncontrolled Keywords: heterotopia, relativitas, lokalitas, adaptasi, gereja Katolik
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
Depositing User: Perpustakaan Maranatha
Date Deposited: 12 Mar 2012 08:46
Last Modified: 23 Apr 2012 07:54
URI: http://repository.maranatha.edu/id/eprint/729

Actions (login required)

View Item View Item