Pengembangan Model Manajer Kasus dan Dampaknya Terhadap Kepuasan Mutu dan Pelayanan Klinik di Rumah Sakit: Penataan Struktur dan Proses Pemberdayaan Manajer Kasus di Ruang Rawat Inap

Kasim, Felix (2010) Pengembangan Model Manajer Kasus dan Dampaknya Terhadap Kepuasan Mutu dan Pelayanan Klinik di Rumah Sakit: Penataan Struktur dan Proses Pemberdayaan Manajer Kasus di Ruang Rawat Inap. In: Parade Penelitian Tuberkulosis 2: On the Move Against Tuberculosis; Innovate to Accelerate Action, 27-29 April 2010, Bandung.

[img]
Preview
Text
Pengembangan Model Manajer Kasus dan Dampaknya Terhadap Kepuasan dan Mutu Pelayanan Klinik di Rumah Sakit.pdf - Published Version

Download (1917Kb) | Preview

Abstract

Perubahan manajemen pelayanan kesehatan yang cost effective berorientasi pada patient safety dan quality assurance mendorong perubahan menyeluruh dari paradigma service exellence menjadi clinical exellence. Oleh karenanya penting dilakukan intervensi untuk meningkatkan mutu klinik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak penerapan disease case manager dengan integrated clinical pathway pada penanganan pasien TBC yang dirawat inap di RS Immanuel Bandung Jawa Barat. Jenis penelitian adalah Action Research, yang berlangsung selama 2 tahun. Pada tahap diagnosing action dilakukan penyamaan persepsi mengenai Manajer Kasus (MK) dan integrated clinical pathway (ICP) serta pengkajian pelayanan keperawatan dan penanganan TBC di RS. Dilakukan pengumpulan data dengan wawancara mendalam 24 responden kunci, 12 informan tambahan, dan observasi partisipatif di RSImmanuel. Telaah 30 rekam medik serta FGD dengan 32 responden. Tahap planning action terutama digunakan untuk memfinalkan instrumen, merekrut MK maupun ICP dan memantapkan jejaring. Setelah itu dilakukan tahap taking action dan evaluating action secara bersamaan. Log book dan ICP distandarkan kepada ICP dari model manajamen kasus diterapkan kepada 153 pasien TBC yang dirawat inap. Analisis data pada tahap diagnosing hingga taking action menggunakan thematic analysis, sedangkan pada tahap evaluating action digunakan uji statistik beda dua mean independen untuk membandingkan sebelum dan sesudah intervensi dengan MK. Pasca pelaksanaan ICP kepuasan meningkat dari 20% menjadi 88 %. Kelengkapan resume medik dan keperawatan meningkat dari 30 % menjadi 83%. Kepatuhan terhadap standar meningkat dari 20% menjadi 33,3%, ketepatan order ke farmasi dari 0% meningkat menjadi 54,9%, kejadian dekubitus menurun dari 6,7% menjadi 0,7%, kejadian infeksi dari 6,7% menjadi 0,7%, serta kesesuaian melaksanakan DOTS dari 13,7% menjadi 50%. Pada thematic analysis ditemukan tema proses, dimensi, strategis, interaktif, identitas, kultur, konsensus, program, indikator yang mempengaruhi kualitas MK dan pelaksanaan ICP. Uji hipotesis bermakna secara statistik dengan uji beda mean dua sampel dengan alpha 0,05 pada variabel kepatuhan terhadap standar penatalaksanaan TBC, lama hari rawat, biaya perawatan total murah, angka kejadian infeksi dan dekubitus serta kelengkapan catatan medis. Penelitian ini menerapkan model disease case management melalui peran MK menggunakan ICP meskipun model ini belum dapat meningkatkan kepuasan pasien, mengurangi cost dan LOS. Model manajemen kasus dapat meningkatkan kolaborasi dan informasi pemberi pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan dan harapan pasien. Manajer kasus dapat mengembangkan model ini untuk penyakit-penyakit lain di RS.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Uncontrolled Keywords: MK, integrated clinical pathway, penatalaksanaan TB, pelayanan keperawatan.
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
Depositing User: Perpustakaan Maranatha
Date Deposited: 12 Apr 2012 10:49
Last Modified: 12 Apr 2012 10:49
URI: http://repository.maranatha.edu/id/eprint/1180

Actions (login required)

View Item View Item