Penerjemahan Love Hina "Larangan Keras Untuk Mandi Bersama' Karya Akamatsu Ken

Sugianto, Gita Devi ( 0242021 ) (2007) Penerjemahan Love Hina "Larangan Keras Untuk Mandi Bersama' Karya Akamatsu Ken. Undergraduate thesis, Universitas Kristen Maranatha.

[img]
Preview
Text
0242021_Abstract_TOC.pdf - Accepted Version

Download (109Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
0242021_Chapter1.pdf - Accepted Version

Download (159Kb) | Preview
[img] Text
0242021_Chapter2.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (228Kb)
[img]
Preview
Text
0242021_Conclusion.pdf - Accepted Version

Download (92Kb) | Preview
[img] Text
0242021_Cover.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (106Kb)

Abstract

KATA PENGANTAR Setelah menunggu dalam waktu yang sangat lama, akhirnya saya dapat menerbitkan edisi novel Love Hina untuk kalian. Saya biasanya menulis skenario dari film animasi televisi, tapi isi cerita novel kali ini, sampai akhir diangkat dari komik, maka film animasi aslinya tidak keluar. Harap diterima dengan baik. Kemungkinan saya akan menciptakan karya orisinil secara terbatas, tapi banyak penggemar Love Hina sehingga tempat yang akan diserbu mungkin menjadi penuh. Selama menulis novel inipun, terbitan berturut-turut dari karya orisinilnya terus berlanjut. “Hue?mengerjakan juga karya orisinil villa Hinata di penginapan air panas?” “Wah…akhirnya rahasia penginapan di belakang Hinata terbongkar, ya!” …dll, sambil merubah karya orisinil kali ini, saya juga menghindari menggunakan sistem komputer. Karena itu, salah satu usaha penyelesaiannya adalah dengan menelepon Akamatsu sensei. “Sensei…walaupun secara garis keturunan, Keitaro disebut keponakan laki-laki dari Haruka, tapi Haruka bukan cucu dari nenek Hinata, kan?” “…hmm, kenapa disebut keponakan laki-laki, ya… (huahahaa)” Penyelesaian! Karena alasan seperti itu, jawaban teka-teki Love Hina begitu saja dapat terpecahkan. Dalam keadaan seperti ini, pembuatan ciptaannya pun tertahan. Maka ada kemungkinan juga menjadi berbeda dengan karya orisinil sebelumnya. Dikatakan bahwa, “Dalam cerita ini, pemunculan dan pembentukan tokohnya, secara umum ada di dalam novel orisinil.” (untuk keterangan lebih lanjut, ada di “Kata penutup”). Kalau begitu…Keitaro…? Keitaro? Perlahan-lahan menjadi gilirannya, ya… Tidak ada alasan untuk mengerti perasaan anak perempuan. Aku langsung berpikir seperti itu. Sejak kecil, aku tidak pernah berbicara langsung dengan anak perempuan, karena didekatku hanya ada seorang ibu yang mengelola sendiri toko kue-kue jepang yang sudah lama berdiri. Ibu ini sangat sulit untuk diimajinasikan sebagai perwujudan anak perempuan. Karena itu, sampai SMA, walaupun ada banyak nama-nama anak perempuan yang sekelas denganku di sekolah, tapi entah kenapa aku takut untuk mengajak bicara anak perempuan tersebut. Suatu saat, pernah ada yang menyapaku, “Urashima, tolong geser sedikit…” lalu tanpa bersemangat, aku akan meninggalkan kursi di ruang makan. Pernah juga ada yang berkata, “Tolong pinjamkan tugas yang kemarin…”. Aku menjawabnya, “Ini kan ga boleh…”, tapi aku malah ditinju. Kalau seperti ini, aku akan sengsara. Aku harus merencanakan terlebih dulu, sebelum aku menyapa anak perempuan. (Hue, tunggu…karena aku ingat kembali…coba dengarkan pembicaraan ini sebentar lagi, ya…). Hue? Saat aku mencoba menyalakan dan mematikan lampu senter, timbul pantulan di pojok kepala. Siapa?! Ada seorang anak perempuan yang sedang menangis…emm…ya…seperti itu… (sepertinya aku tidak bisa mengingatnya kembali…), hmm…syal… Menjelang liburan musim dingin saat aku kelas 3 SD, aku dan Riddo menemukan sesuatu yang menyerupai bungkusan di bagian belakang kelas, di bagian kosong dari lemari yang berguna untuk memasukkan pakaian senam yang berdasarkan urutan nomor absen. (Riddo adalah teman sepermainanku, terutama setelah tamat sekolah.) O ya…tentang bungkusan, ya… Pendek kata, isinya adalah syal rajutan tangan. Awalnya aku menanyakan kepada semua orang, siapa tahu ada yang merasa kehilangan barang, tapi tidak ada seorangpun yang mengakuinya. Beberapa anak laki-laki di kelas malah mempermainkanku, katanya “Untuk apa menerima syal rajutan tangan…” Tapi, lambat laun aku pun sudah mengerti keadaannya. Apakah ada yang menyukaiku? Dengan semangat, hari ini aku langsung membelitkan syal itu di leherku. Walaupun dilarang oleh guru karena aku berkeringat, tapi aku tidak melepaskannya. Rasanya, aku kesulitan bernafas…tapi ini keberuntunganku. Saat jam menunjukkan angka empat, aku menyadari penglihatanku. Dari arah depan, terlihat sesuatu yang berkilauan. Aku menyadarinya. Begitu, ya…apakah kamu menghadiahkan ini untukku? Sepertinya dia bermaksud mengatakan sesuatu. Terima kasih, ya…tolong jaga baik- baik… “Dia pencuri!” Sepulang sekolah, aku diserang dengan tinjuan dari seseorang yang mendekatiku ini, dilanjutkan dengan suara kemarahan dari belakang. Saat aku berpaling, dia sudah berlinang air mata. Aku menjadi cemas karena dia menampar anak laki-laki yang menyembunyikan wajahnya di belakangku. “Pikirkan perasaan orang ini, donk!”, kataku. Dia mengatakan bahwa Urasawa adalah sasaran pukulannya. (Dalam absen, namanya ada di atas namaku). Seperti yang dikatakan, pemecahan teka-tekinya mudah, mungkin dia keliru menyimpan syalnya di rak Urasawa. Padahal maksud sebenarnya adalah karena sepertinya dia ingin dilindungi oleh Urasawa. Apakah sebaiknya aku segera mengatakan bahwa ini merupakan kekeliruan atau aku harus segera mengembalikannya. Kenapa dia menatapku, tapi tidak mengatakan apa-apa. Oleh karena itu, tidak sulit untuk melakukan suatu kekeliruan. Perasaan? Perasaannya? Menurutku, tidak ada alasan untuk mengerti kata-katanya. Anak-anak, termasuk aku adalah orang yang kejam. Kata-kata Urasawa memang terlihat terlalu dewasa, tapi tiba-tiba ungkapan itu menjadi populer di kelas. Pendek kata, semenjak hari itu aku disebut sebagai teman yang tidak mengerti perasaan anak perempuan. Kalau mencoba menghubungkan dengan perasaan, dalam diriku tidak ada perasaan anak perempuan sehingga tidak ada alasan untuk mengertinya. Aku tidak tahu, sejak kapan aku menjadi terbiasa berpikir seperti itu. Oleh karena itu, ada kalanya hal itu menjadi mustahil. Ditambah lagi, sekarang aku yang sedang mengarahkan untuk masuk ke Universitas Tokyo, walaupun sudah tiga kali gagal…mungkin ini menjadi sumber ketidakmengertianku terhadap perasaan anak perempuan. Jangankan perasaan anak perempuan, perasaan diri sendiripun tidak kumengerti dengan baik. Aku pernah bertemu dengan seorang anak perempuan. “Apa kamu tahu?” Satu hari, saat aku sedang bermain galian pasir, anak perempuan itu membisikiku, “Kelak, kita sama-sama masuk ke Universitas Tokyo dengan cinta, ya.” “cinta…?” “dengan bahagia…” “huuh…” “janji, ya… kalau sudah besar, kita sama-sama masuk Universitas Tokyo, ya…” Aku tidak memikirkan perasaan atau apapun saat itu, hanya mengingat dengan jelas suara yang redam itu. Karena usia 2 tahun merupakan usia yang masih terlalu muda, sehingga aku tidak bertanya apapun. Sebenarnya apa maksud dari anak perempuan itu…Universitas Tokyo itu apa…akupun tidak tahu saat itu. Janjiku waktu kecil bukan merupakan keseriusan, tapi bagaimanapun juga kalau tidak memiliki sasaran, maka tidak ada hal lain juga yang dapat dilakukan. Akan tetapi, sebenarnya anak perempuan itu berjanji padaku dengan perasaan seperti apa, akupun tidak tahu. Sejak berbagi masa kecil dengan anak perempuan itu, tapi aku tidak ingat wajah dan namanya. Aku yang tidak tahu perasaan anak perempuan, tapi sekarang…tempatku bertukar janji untuk mempercayai perasaan anak perempuan itu…ada di villa Hinata. Tidak mustahil, kan? KATA PENUTUP Selamat siang, saya Akamatsu Ken, pengarang asli dari “Love Hina”. Edisi novelnya, bagaimana? Aku mempercayakan Hatsuki, seorang penulis cerita edisi anime untuk bergabung dengan staff inti dari “Anime Hina”, tapi walaupun begitu gaya pembuatannya tidak sama dengan edisi komik. Tokoh yang ada dalam komik, yang merupakan staff offisial, yaitu ibu dari Haruka, pada edisi kali ini juga tidak dihilangkan. Tapi, struktur villa Hinatanya berbeda dengan yang ada di komik. Hal itu disesuaikan bersama-sama dengan Hatsuki saat pergi menginap di sebuah tempat yang menyerupai rumah penginapan, sehingga perlu menyatukan maksudnya, ya…(Hahahahaa) (*Sudah pasti, biaya untuk mencari bahan, melibatkan kantor pembuat cerita…*) Saat edisi novel ini terbit, hanya selang 1 bulan dari edisi komik yang terbit saat liburan musim semi. Jadi, ilustrasinya melukiskan liburan musim semi. Karena hanya sebuah ilustrasi, aku pikir hasilnya sedikit berbeda, tapi dengan berani kami menampilkannya dengan menggunakan pengurangan dari garis pensil (agar tidak ada kesukaran). Dalam waktu yang lama, saya memanggil asisten untuk menempelkan layar, agar terlihat baru. Kadang-kadang berhubungan dengan pekerjaan bagian ilustrasi, menarik juga, ya... …Akhirnya, saat saya menyelesaikan edisi novel ini, edisi animenya juga berakhir, dan edisi komiknya juga sudah beredar (?). Semangat, ya!!! Selanjutnya…terimakasih atas perhatiannya terhadap “Love Hina”. Akamatsu Ken

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: P Language and Literature > PN Literature (General)
Depositing User: Perpustakaan Maranatha
Date Deposited: 17 Oct 2014 11:18
Last Modified: 17 Oct 2014 11:18
URI: http://repository.maranatha.edu/id/eprint/7648

Actions (login required)

View Item View Item